HWW / RUANG BACA

RUANG BACA · NOVEL 01

FANTASI GELAP · PETUALANGAN · DRAMA

The Boy
Cursed by Blood

Anak yang Terkutuk oleh Darah

Baca kisah Ken dari prolog tentang dosa para pahlawan hingga pertemuannya dengan seorang gadis misterius di hutan.

MULAI MEMBACA
Dua tokoh bertarung di bawah kutukan darah
DI ANTARA MANUSIA DAN MONSTER

PROLOG 00 · THE BOY CURSED BY BLOOD

00 — Prolog: Dosa Para Pahlawan

Bertahun-tahun sebelum kelahiran Ken.

Malam itu, langit terbakar.

Bukan oleh matahari, bukan pula oleh api yang menjalar di atap rumah penduduk. Cahaya merah yang menggantung di atas ibu kota berasal dari retakan besar di langit—sebuah luka yang membelah awan dan memuntahkan makhluk-makhluk dari dunia yang tidak dikenal manusia.

Lonceng kerajaan berbunyi tanpa henti.

Di jalan-jalan, orang-orang berdesakan mencari perlindungan. Para prajurit mengangkat perisai di depan gerbang, tetapi tangan mereka gemetar ketika melihat sesuatu bergerak di balik kabut.

Monster-monster itu tidak semuanya memiliki bentuk yang sama.

Sebagian menyerupai serigala dengan tulang mencuat dari punggung. Sebagian lain berjalan dengan dua kaki, mengenakan potongan zirah manusia, dan membawa senjata yang dirampas dari para prajurit yang telah mereka bunuh.

Di antara mereka berdiri makhluk yang jauh lebih besar.

Sosok berjubah hitam dengan tanduk melengkung, sepasang mata merah, dan mahkota yang tampak menyatu dengan tengkoraknya.

Raja Iblis.

Ia tidak berteriak. Tidak pula mengangkat senjata.

Ia hanya memandang ibu kota, seolah-olah seluruh kerajaan itu sudah menjadi miliknya.

"Manusia," ucapnya.

Suaranya terdengar di seluruh medan perang.

"Kalian membangun tembok, mengangkat raja, dan menyebut tanah ini milik kalian. Katakan kepadaku, apa yang membuat kalian berbeda dari makhluk yang kalian buru?"

Tidak ada prajurit yang menjawab.

Kemudian, dari balik gerbang yang hampir runtuh, empat sosok melangkah maju.

Yang pertama adalah seorang pria berzirah gelap dengan pedang panjang di tangannya. Setiap langkahnya menggema di atas batu yang retak.

Aldric von Draven, sang Pahlawan Pedang.

Di sebelahnya berdiri seorang perempuan berjubah putih keunguan. Rambut hitamnya berkibar diterpa angin, sementara lingkaran sihir berputar perlahan di sekitar jemarinya.

Morrigan Elaris, sang Penyihir Bintang.

Sosok ketiga mengangkat perisai berhiaskan matahari. Cahaya keemasan merambat di permukaannya, membentuk penghalang di hadapan para prajurit yang terluka.

Seraphine Valcrest, sang Perisai Fajar.

Sementara itu, seorang pemanah berdiri di atas reruntuhan menara. Anak panahnya telah diarahkan tepat ke jantung Raja Iblis.

Caelan Veyr, sang Mata Fajar.

Empat orang.

Empat kekuatan.

Empat manusia yang kelak akan dipuja sebagai penyelamat umat manusia.

Aldric mengangkat pedangnya.

"Selama kami masih berdiri, kau tidak akan menyentuh kerajaan ini."

Raja Iblis memiringkan kepala.

"Dan jika suatu hari kalian tidak lagi berdiri?"

Aldric tidak menjawab.

Ia menerjang.

Pedangnya membelah udara, meninggalkan garis cahaya putih yang menghantam zirah Raja Iblis. Pada saat bersamaan, anak panah Caelan melesat dari menara, sementara sihir Morrigan membentuk rantai-rantai bercahaya yang mengikat kaki sang musuh.

Seraphine mengangkat perisainya.

Cahaya menyebar di seluruh medan perang.

Untuk sesaat, malam tampak berhenti.

Kemudian Raja Iblis tertawa.

Rantai sihir Morrigan pecah.

Anak panah Caelan hancur sebelum mencapai sasaran.

Benturan pedang Aldric mengguncang gerbang hingga sebagian dinding runtuh. Seraphine menahan gelombang energi yang menyapu para prajurit, tetapi kedua lututnya menghantam tanah.

"Mustahil..." bisik seorang prajurit.

Morrigan mengangkat kedua tangannya.

Darah mengalir dari sudut bibirnya. Ia mengabaikannya dan mulai melafalkan mantra yang tidak pernah diajarkan di akademi sihir kerajaan.

Aldric menoleh.

"Morrigan, jangan!"

"Aku tahu apa yang kulakukan!"

"Mantra itu akan menghabiskan hidupmu!"

"Kalau kita tidak menghentikannya sekarang, tidak akan ada kehidupan yang tersisa untuk dihabiskan!"

Udara bergetar.

Bayangan di bawah kaki Morrigan memanjang, lalu berubah menjadi puluhan tangan hitam yang mencengkeram tubuh Raja Iblis.

Caelan melepaskan anak panah terakhirnya.

Seraphine berdiri meskipun perisainya retak.

Dan Aldric, dengan pedang yang mulai kehilangan cahayanya, menyerang sekali lagi.

Empat kekuatan bertemu pada satu titik.

Cahaya putih meledak.

Ketika semuanya mereda, Raja Iblis telah menghilang dari medan perang. Retakan di langit menyusut, menyisakan garis merah tipis yang perlahan tertutup awan.

Monster-monster yang tersisa melarikan diri ke hutan.

Untuk pertama kalinya malam itu, lonceng kerajaan berhenti berbunyi.

Mereka menang.

Para prajurit bersorak. Orang-orang berlutut sambil menangis. Dari balik reruntuhan, seseorang meneriakkan nama keempat pahlawan.

Aldric mengangkat pedangnya.

Seraphine menundukkan kepala.

Caelan menurunkan busurnya.

Morrigan hanya berdiri diam, memandang langit yang kembali gelap.

Ia tidak ikut bersorak.

Jauh dari medan perang, di sebuah rumah kecil yang hampir roboh, seorang anak perempuan sedang menunggu ibunya pulang.

Namanya Lyra.

Dan ia tidak tahu bahwa kemenangan yang dirayakan seluruh kerajaan akan menjadi awal dari kematiannya.


Tiga bulan kemudian, ibu kota dipenuhi bendera kemenangan.

Patung-patung didirikan. Lagu-lagu diciptakan. Nama empat pahlawan diukir pada dinding istana, sementara para bangsawan mengadakan pesta untuk merayakan berakhirnya perang.

Namun, tidak semua orang memperoleh kedamaian.

Di sebuah ruangan sempit di bawah istana, seorang anak perempuan duduk di atas kursi kayu.

Lyra berusia sembilan tahun.

Gaun putihnya terlalu besar untuk tubuhnya. Rambut hitamnya diikat seadanya, dan kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan.

Di hadapannya berdiri tiga pejabat kerajaan, seorang pendeta, dan ayahnya sendiri.

Aldric von Draven.

Ia masih mengenakan seragam kebesaran sang Pahlawan Pedang. Pedang yang dahulu digunakan untuk menyelamatkan kerajaan tergantung di pinggangnya.

Lyra menatapnya dengan mata berbinar.

"Ayah."

Aldric tidak menjawab.

"Ayah, Ibu bilang Ayah akan pulang setelah perang selesai."

Salah seorang pejabat berdeham.

"Tuan Draven, kami perlu melanjutkan pemeriksaan."

Aldric mengangguk tipis.

Lyra menoleh kepada pria itu.

"Pemeriksaan apa?"

Pendeta di sampingnya membuka sebuah gulungan.

"Anak ini menunjukkan tanda sihir yang tidak lazim. Energinya memiliki kemiripan dengan sisa kekuatan Raja Iblis yang ditemukan di medan perang."

Lyra mengerutkan kening.

"Aku tidak melakukan apa-apa."

"Kami hanya ingin memastikan bahwa kau tidak membahayakan kerajaan."

"Aku bahkan tidak tahu apa yang kalian bicarakan."

Pejabat tertua meletakkan sebuah batu kristal di atas meja.

"Sentuh benda ini."

Lyra memandang kristal tersebut, lalu menatap ayahnya.

"Ayah?"

Aldric berdiri diam.

Ia tahu putrinya tidak memahami apa yang sedang terjadi. Ia tahu tanda di tubuh Lyra belum membuktikan bahwa anak itu membawa kutukan. Ia bahkan mengetahui bahwa para penyihir kerajaan belum sepakat mengenai sumber energi yang ditemukan di dalam darahnya.

Namun, jika ia membela Lyra dan tuduhan itu terbukti benar, kedudukannya sebagai pahlawan akan hancur.

Nama keluarganya akan dipertanyakan.

Para bangsawan yang dahulu memujanya mungkin akan berbalik melawannya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aldric dihadapkan pada pilihan yang tidak dapat diselesaikan dengan pedang.

Lyra mengulurkan tangan.

Kristal itu menyala merah.

Salah seorang pejabat langsung mundur.

"Terbukti!"

Pendeta menutup gulungannya.

"Tanda kutukan Raja Iblis."

Lyra menarik tangannya.

"Aku tidak tahu kenapa benda itu menyala!"

"Diam!" bentak pejabat tersebut.

Anak itu tersentak.

Ia menatap ayahnya sekali lagi.

"Ayah, katakan kepada mereka."

Aldric memejamkan mata sejenak.

Lyra turun dari kursinya, lalu berjalan menghampirinya.

"Ayah, aku takut."

Ia meraih ujung mantel Aldric.

"Tolong bawa aku pulang."

Tangan Aldric bergerak sedikit.

Untuk sesaat, ia hampir menyentuh kepala putrinya.

Namun, ia menarik tangannya kembali.

"Anak ini," katanya dengan suara datar, "tidak lagi berada di bawah perlindungan keluarga Draven."

Lyra tidak segera memahami perkataannya.

Ia menatap ayahnya, menunggu penjelasan.

"Tapi... aku anak Ayah."

Aldric berbalik.

"Ayah!"

Langkahnya terus menjauh.

"Ayah, aku tidak melakukan apa-apa!"

Pintu besi ditutup.

Suara benturannya menggema di dalam ruangan.

Lyra berdiri sendirian.

Ia tidak menangis pada awalnya. Ia hanya memandang pintu itu, seolah-olah jika ia menunggu cukup lama, ayahnya akan kembali dan mengatakan bahwa semuanya hanyalah kesalahpahaman.

Namun, tidak ada yang kembali.

Di luar ruangan, seorang perempuan berlari menyusuri lorong.

Morrigan.

Ia baru saja mendengar keputusan pengadilan. Jubahnya terseret di lantai, dan rambutnya berantakan ketika ia tiba di depan pintu besi.

"Apa yang kalian lakukan kepada anakku?"

Dua penjaga menghalangi jalannya.

"Lady Elaris, pemeriksaan telah selesai."

"Buka pintunya!"

"Atas perintah dewan kerajaan, anak tersebut akan dipindahkan untuk menjalani pengasingan."

Morrigan menatap mereka.

"Pengasingan?"

"Keputusan sudah ditetapkan."

"Dia berusia sembilan tahun!"

Tidak ada yang menjawab.

Morrigan mencengkeram lengan salah seorang penjaga.

"Di mana suamiku?"

Penjaga itu menunduk.

"Tuan Draven telah meninggalkan istana."

Morrigan melepaskan tangannya perlahan.

Untuk sesaat, ia tampak tidak mengerti bahasa yang baru saja didengarnya.

Kemudian ia berlari menuju pintu besi.

"Lyra!"

Dari dalam, terdengar suara langkah kecil.

"Ibu?"

Morrigan menempelkan telapak tangannya pada pintu.

"Ibu di sini, Sayang."

"Ibu, aku tidak melakukan apa-apa."

Morrigan menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mengalir di wajahnya.

"Aku tahu."

"Mereka bilang aku monster."

"Kau bukan monster."

"Mereka bilang Ayah tidak mau melihatku lagi."

Morrigan tidak sanggup menjawab.

Di balik pintu, Lyra mulai menangis.

"Ibu... aku ingin pulang."

Morrigan menempelkan dahinya pada besi yang dingin.

Ia adalah salah satu dari empat pahlawan yang menyelamatkan kerajaan. Tangannya pernah menahan kekuatan yang mampu menghancurkan benteng. Sihirnya pernah membuat Raja Iblis mundur.

Namun, malam itu, ia tidak mampu membuka sebuah pintu.

Dan untuk pertama kalinya, Morrigan memahami bahwa kekuatan tidak selalu berarti kemampuan untuk melindungi seseorang.


Lyra tidak pernah kembali ke rumah.

Beberapa hari kemudian, sebuah kabar menyebar di ibu kota.

Anak yang dituduh membawa kutukan Raja Iblis telah meninggal dalam pengasingan.

Tidak ada upacara pemakaman.

Tidak ada nama yang diukir pada batu nisan.

Tidak ada catatan resmi yang menjelaskan bagaimana seorang anak berusia sembilan tahun menghabiskan hari-hari terakhirnya.

Kerajaan hanya mengumumkan bahwa ancaman telah disingkirkan.

Pada hari pengumuman itu, Aldric berdiri di balkon istana bersama istri barunya.

Di bawahnya, rakyat bersorak karena percaya bahwa kerajaan telah kembali aman.

Aldric tidak tersenyum.

Namun, ia juga tidak mengatakan apa-apa.

Di sisi lain ibu kota, Morrigan berdiri di depan sebuah makam tanpa nama.

Ia membawa bunga putih yang telah layu.

Tidak ada pendeta yang bersedia menemaninya. Tidak ada prajurit yang bersedia menjaga tempat itu. Bahkan orang-orang yang dahulu menyebutnya pahlawan kini menjauh setiap kali melihatnya.

Morrigan meletakkan bunga tersebut di atas tanah.

"Maafkan Ibu."

Angin malam bertiup.

"Aku berjanji akan membawamu pulang."

Ia berlutut.

"Aku berjanji tidak akan membiarkan mereka menyakitimu."

Jemarinya menggali tanah hingga kuku-kukunya patah.

Namun, tanah itu tetap dingin.

Dan Lyra tetap tidak kembali.

Morrigan menundukkan kepala.

Lama sekali ia tidak bergerak.

Ketika akhirnya ia berdiri, sesuatu dalam tatapannya telah berubah.

Kesedihan itu masih ada.

Kasih sayangnya kepada Lyra juga tidak pernah hilang.

Namun, di balik keduanya, tumbuh sesuatu yang jauh lebih gelap.

Ia menatap istana yang menjulang di kejauhan.

"Aldric von Draven."

Namanya keluar dari bibir Morrigan seperti doa yang telah kehilangan kesuciannya.

"Kau meninggalkan anakmu demi mempertahankan kehormatanmu."

Angin membawa suaranya melintasi makam-makam tua.

"Kau membiarkan mereka membunuhnya agar tanganmu tetap bersih."

Tanah di bawah kakinya mulai retak.

Bayangan memanjang dari tubuhnya. Rambut hitamnya terangkat, seolah-olah ada tangan tak terlihat yang menariknya ke langit.

"Aku akan mengutuk darahmu."

Cahaya ungu menyala di sela-sela jari Morrigan.

"Bukan hanya dirimu. Bukan hanya anak-anak yang akan kau lahirkan."

Suaranya bergetar.

"Setiap keturunanmu akan membawa bekas dari dosa yang kau tinggalkan."

Angin berhenti.

"Semoga mereka mengetahui bagaimana rasanya dihakimi sebelum sempat berbicara."

Bayangan hitam merambat di sepanjang lengannya.

"Semoga mereka melihat ketakutan di mata orang-orang yang mereka cintai."

Morrigan mengangkat wajah.

Air matanya telah mengering.

"Dan ketika dunia menyebut mereka monster..."

Sebuah suara lain menjawab dari dalam kegelapan.

"...biarkan darah mereka mengingat siapa yang pertama kali mengkhianatinya."

Morrigan terdiam.

Ia tidak tahu apakah suara itu berasal dari sihir yang telah ia lepaskan, dari sisa kekuatan Raja Iblis, atau dari bagian dirinya yang telah lama hancur.

Namun, ia tidak menarik kembali kutukannya.

Malam itu, perempuan yang dahulu dikenal sebagai Penyihir Bintang meninggalkan makam putrinya dan berjalan menuju hutan terlarang.

Tubuhnya berubah sedikit demi sedikit.

Kulitnya kehilangan warna. Bayangan tumbuh di sepanjang tulangnya. Dari punggungnya muncul bentuk-bentuk yang menyerupai akar hitam, sementara matanya menyala dengan cahaya ungu yang dingin.

Ia tidak lagi ingin menjadi pahlawan.

Ia tidak lagi ingin menyelamatkan kerajaan.

Ia hanya ingin dunia mengingat nama anaknya.

Dan di istana, jauh dari makam tanpa nama itu, tidak seorang pun menyadari bahwa kutukan telah mulai bergerak.

Bertahun-tahun kemudian, seorang anak laki-laki akan dilahirkan dengan separuh wajah menyerupai monster.

Namanya Ken.

Ia tidak pernah mengenal Lyra.

Ia tidak pernah memilih darah yang mengalir di tubuhnya.

Dan ia tidak pernah mengetahui bahwa jauh sebelum kelahirannya, orang-orang yang disebut pahlawan telah meninggalkan dosa yang akan diwariskan kepadanya.

Sementara itu, di suatu tempat di balik hutan terlarang, Morrigan membuka matanya.

Untuk pertama kalinya sejak kematian putrinya, ia tersenyum.

Bukan karena bahagia.

Melainkan karena kutukannya telah menemukan jalan menuju masa depan.

— Akhir Prolog 00 —

BAB 01

Bab 01 — Wajah di Balik Takdir

Ada wajah yang ditakuti manusia. Ada pula manusia yang dipaksa hidup seolah-olah dirinya adalah monster.


Hujan turun sejak sore.

Air merembes melalui celah atap gereja tua, menetes ke lantai batu yang dingin. Di luar, angin menggoyangkan ranting-ranting pohon hingga bayangannya menari di jendela kaca patri yang telah kehilangan sebagian warnanya.

Ken duduk di bangku paling belakang.

Di hadapannya tergeletak sebuah buku tua dengan sampul kulit yang mulai mengelupas. Halamannya terbuka pada kisah tentang empat pahlawan yang menyelamatkan kerajaan dari serangan Raja Iblis.

Ia sudah membaca kisah itu berkali-kali.

Bukan karena menyukainya, melainkan karena buku itu merupakan satu dari sedikit benda yang boleh ia sentuh tanpa mendengar seseorang berkata bahwa dirinya akan merusaknya.

Ken membalik halaman.

Empat pahlawan berdiri di hadapan kegelapan. Dengan pedang, sihir, iman, dan keberanian, mereka mengembalikan cahaya kepada umat manusia.

Ia berhenti pada ilustrasi di bagian bawah halaman.

Seorang pria mengangkat pedang ke arah langit. Di belakangnya berdiri tiga sosok lain: seorang kesatria berperisai, seorang pemanah berjubah, dan seorang penyihir dengan tongkat tinggi.

Wajah mereka digambarkan dengan begitu indah.

Seolah-olah dunia tidak pernah memiliki alasan untuk membenci mereka.

Ken mengusap tepi ilustrasi dengan ujung jarinya.

"Kalau mereka benar-benar menyelamatkan semua orang," gumamnya, "kenapa masih ada orang yang dibenci hanya karena wajahnya?"

"Karena buku sejarah tidak ditulis untuk menjawab semua pertanyaanmu."

Ken segera menoleh.

Seorang perempuan berdiri di ujung lorong, membawa lampu minyak dan sekeranjang roti yang ditutupi kain. Rambut cokelatnya mulai memperlihatkan beberapa helai uban. Jubah sederhana yang dikenakannya basah di bagian bahu.

Bibi Elena.

Ken buru-buru menutup buku.

"Aku tidak merusaknya."

Elena mengangkat alis.

"Aku bahkan belum menanyakan apa pun."

"Oh."

"Dan kau sudah membela diri."

Ken mengalihkan pandangan. "Kebiasaan."

Elena berjalan mendekat. Bunyi sepatunya bergema di dalam gereja yang kosong.

Ia meletakkan sekeranjang roti di atas bangku, lalu duduk di samping Ken.

"Belum makan?"

"Sudah."

"Apa yang kau makan?"

Ken terdiam.

Elena menatapnya.

"Ken."

"Roti."

"Roti yang mana?"

Ken menunjuk sekeranjang di pangkuan Elena.

Perempuan itu mengembuskan napas panjang, tetapi sudut bibirnya sedikit terangkat.

"Jadi, kau sudah memakan makan malam sebelum makan malam."

"Kalau begitu, aku tidak lapar."

"Bagus. Berarti kau tidak keberatan kalau semua ini kuberikan kepada tikus."

Ken segera mengambil sepotong roti.

Elena tertawa kecil.

Suara itu terdengar aneh di antara dinding-dinding tua yang biasanya hanya menyimpan keheningan. Ken tidak tahu kapan terakhir kali ia mendengar seseorang tertawa tanpa rasa takut di dekatnya.

Ia menggigit rotinya.

Roti itu agak keras. Bagian tengahnya masih hangat.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang perlu mereka bicarakan.

Kemudian Elena melirik buku yang tergeletak di antara mereka.

"Kau membaca kisah empat pahlawan lagi?"

Ken mengangguk.

"Menurut Bibi, mereka benar-benar orang baik?"

Pertanyaan itu membuat tangan Elena berhenti ketika hendak merapikan kain penutup keranjang.

"Hm?"

"Empat pahlawan itu." Ken menunjuk ilustrasi. "Apa mereka benar-benar orang baik?"

Elena tidak langsung menjawab.

Hujan mengetuk jendela. Jauh di luar, petir menyambar dan menerangi patung malaikat yang berdiri di halaman gereja.

"Orang bisa melakukan sesuatu yang hebat," katanya akhirnya, "tanpa menjadi orang yang baik dalam segala hal."

Ken menatapnya.

"Kalau begitu, kenapa buku ini hanya menceritakan hal-hal hebat yang mereka lakukan?"

"Karena terkadang orang lebih menyukai pahlawan yang sempurna daripada manusia yang sebenarnya."

Ken memikirkan jawaban itu cukup lama.

"Kalau aku menulis buku sejarah, aku akan menuliskan semuanya."

Elena menoleh kepadanya.

"Bahkan hal-hal buruk?"

"Terutama hal-hal buruk."

"Kenapa?"

Ken memandangi ilustrasi sang pahlawan pedang.

"Supaya orang tahu siapa yang harus mereka takuti."

Senyum Elena perlahan menghilang.

Sebelum ia sempat menjawab, terdengar suara lonceng dari kejauhan.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Elena berdiri.

Ken mengenal bunyi itu. Lonceng tersebut berasal dari menara desa, bukan dari gereja mereka. Biasanya, lonceng dibunyikan untuk mengumumkan kebakaran, kedatangan pedagang besar, atau peringatan bahaya.

Namun, malam itu bukan hari pasar.

Elena mengambil lampu minyak.

"Tetap di sini."

Ken menutup buku. "Ada apa?"

"Mungkin hanya pengumuman dari kepala desa."

"Bibi bilang begitu setiap kali ada sesuatu yang tidak ingin Bibi jelaskan."

Elena berhenti.

Untuk sesaat, wajahnya tampak lelah.

"Dan kau selalu menemukan cara untuk membuatku menyesal telah mengajarimu berbicara."

Ken hampir tersenyum.

Hampir.

Elena berbalik menuju pintu samping. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi.

"Jangan keluar dari gereja, Ken. Apa pun yang kau dengar."

Kali ini, nada suaranya tidak menyisakan ruang untuk bercanda.

Ken mengangguk.

Pintu tertutup.

Dan gereja kembali sunyi.


Keesokan paginya, Ken menyadari bahwa sesuatu telah berubah.

Bukan pada gereja.

Bukan pula pada langit kelabu yang menggantung di atas desa.

Perubahannya ada pada orang-orang.

Ketika Elena pergi membeli persediaan, Ken menunggu di dalam gereja seperti biasa. Ia duduk di ambang pintu samping, mengenakan jubah cokelat tua yang sudah terlalu panjang untuk tubuhnya.

Dari tempat itu, ia bisa melihat jalan menuju pasar.

Biasanya, para pedagang akan melewati jalan tersebut sambil mendorong gerobak. Anak-anak berlari mengejar ayam. Para perempuan membawa keranjang, sementara para lelaki berdebat mengenai harga gandum.

Hari itu, percakapan mereka terputus ketika Ken muncul di ambang pintu.

Seorang anak kecil yang sedang memegang apel menatapnya.

Ken menundukkan kepala sedikit.

Anak itu mundur.

Ibunya segera menariknya ke belakang tubuhnya.

"Jangan lihat," bisik perempuan tersebut.

Ken pura-pura tidak mendengar.

Ia sudah cukup sering mendengar kalimat itu untuk mengetahui bahwa terkadang orang sengaja mengucapkannya dengan suara keras.

Ken menarik tudung jubahnya lebih dalam.

Ia hendak kembali ke dalam ketika seorang pedagang tua menjatuhkan sekantong kentang di dekat pintu. Beberapa kentang menggelinding ke jalan.

Ken segera membungkuk dan membantu memungutinya.

"Ini, Pak."

Pedagang itu menatap tangan Ken.

Lalu wajahnya.

Kentang yang baru saja diterimanya jatuh kembali ke tanah.

"Jangan sentuh barangku!"

Ken membeku.

"Aku hanya membantu."

"Menjauh!"

Beberapa orang menoleh.

Pedagang itu mundur sampai punggungnya membentur gerobak.

"Anak itu!" serunya. "Anak yang disembunyikan di gereja!"

Suasana pasar berubah.

Seorang perempuan menutup mulut. Seorang lelaki meraih bahu anaknya dan menariknya menjauh. Dua pemuda yang berdiri di depan kedai mulai mendekat.

Ken tidak mengerti bagaimana mereka bisa mengetahui keberadaannya.

Ia mundur satu langkah.

"Aku tidak melakukan apa-apa."

"Jangan mendekat!" teriak pedagang itu.

"Aku tidak—"

"Tutup wajahmu!"

Seseorang melemparkan batu.

Batu itu menghantam dinding di samping kepala Ken.

Suara benturannya membuatnya tersentak. Tangannya refleks terangkat untuk melindungi wajah.

Dan untuk sesaat, tudungnya tersingkap.

Separuh wajahnya terlihat.

Kulit di sekitar mata kirinya memiliki warna yang tidak wajar, dengan guratan gelap menyerupai urat yang menjalar menuju pelipis. Bentuk tulang pipinya tampak sedikit berbeda, sementara mata kirinya memiliki kilau merah yang terlalu jelas di bawah cahaya matahari.

Seseorang berteriak.

"Monster!"

Kata itu menyebar lebih cepat daripada hujan semalam.

"Anak terkutuk!"

"Seperti dalam legenda!"

"Dia membawa kutukan Raja Iblis!"

Ken tidak bergerak.

Ia bisa mendengar mereka.

Setiap kata terdengar begitu jelas sampai-sampai ia berharap hujan kembali turun, cukup deras untuk menenggelamkan suara manusia.

Lalu seseorang mendorongnya.

Ken jatuh berlutut di jalan yang berlumpur.

Telapak tangannya tergores batu.

Darah menetes dari kulitnya.

Ia menatap darah itu tanpa berkedip.

Merah.

Darahnya merah, sama seperti darah orang-orang yang berdiri mengelilinginya.

"Ken!"

Suara Elena memecah kerumunan.

Perempuan itu menerobos melewati orang-orang, menjatuhkan keranjang belanja yang dibawanya. Ia berlutut di samping Ken dan segera menarik tudungnya untuk menutupi wajah anak itu.

"Jangan sentuh dia!"

Seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun maju ke depan. Ia mengenakan mantel wol mahal dan cincin perak pada jari telunjuknya.

"Elena Marlowe," katanya. "Kami sudah cukup lama membiarkanmu tinggal di gereja itu."

Elena berdiri, menempatkan dirinya di antara lelaki itu dan Ken.

"Dia anak yang tidak pernah mengganggu siapa pun."

"Dia memiliki tanda yang sama dengan anak dalam legenda."

"Legenda bukan bukti."

"Dan kau menyembunyikannya dari kami!"

"Karena aku tahu apa yang akan kalian lakukan jika kalian menemukannya."

Lelaki itu mengencangkan rahangnya.

Di belakangnya, kerumunan semakin ramai. Beberapa orang memandang Ken dengan ketakutan. Yang lain tampak marah, seolah-olah mereka telah menemukan alasan untuk melampiaskan kebencian yang selama ini tidak memiliki sasaran.

Ken memegang ujung jubah bibinya.

"Bibi..."

Elena tidak menoleh.

"Diam dulu, Sayang."

Lelaki itu menunjuk Ken.

"Anak itu harus dibawa ke balai desa. Kita perlu memastikan bahwa dia tidak membawa kutukan."

"Tidak."

"Kau tidak punya hak untuk menolak."

"Aku adalah keluarganya."

"Dan kau telah berbohong kepada seluruh desa!"

Elena menatapnya tanpa berkedip.

"Kalau menyembunyikan seorang anak dari orang-orang yang ingin menyakitinya disebut kebohongan, maka aku akan terus berbohong."

Kerumunan terdiam sesaat.

Ken belum pernah mendengar Elena berbicara seperti itu.

Bukan dengan suara keras.

Bukan dengan amarah yang meledak-ledak.

Melainkan dengan ketenangan yang membuat setiap kata terdengar seperti sesuatu yang tidak akan pernah ia tarik kembali.

Lelaki bermantel mahal itu memberi isyarat kepada dua pemuda di belakangnya.

"Bawa mereka."

Elena segera menggenggam tangan Ken.

"Lari."

Ken menoleh kepadanya.

"Apa?"

"Lari, Ken!"

Ia mendorong Ken menuju jalan sempit di samping kedai. Ken terhuyung, tetapi segera berdiri.

"Bibi ikut!"

"Nanti aku menyusul!"

Ken mengenal kebohongan itu.

Ia telah mendengarnya ketika Elena harus meninggalkannya sendirian selama beberapa hari untuk mencari makanan. Ia telah mendengarnya ketika bibinya pulang dengan luka di lengan dan berkata bahwa ia terjatuh. Ia telah mendengarnya setiap kali Elena mencoba menyembunyikan sesuatu yang dapat membuatnya khawatir.

Namun, kali ini Ken tidak memiliki waktu untuk membantah.

Teriakan terdengar di belakangnya.

Ia berlari.

Jalanan yang dikenalnya sejak kecil mendadak terasa asing. Ia melewati kedai roti, sumur tua, dan pagar kayu yang biasa digunakan anak-anak untuk bermain. Beberapa orang melihatnya berlari, lalu segera menutup pintu rumah mereka.

Tidak seorang pun menghentikannya.

Tidak seorang pun menolongnya.

Ketika mencapai ujung jalan, Ken menoleh.

Elena masih berdiri di tengah kerumunan.

Tubuhnya kecil di antara orang-orang yang mengepungnya.

Namun, ia tidak mundur.

Ken ingin kembali.

Ia ingin berlari ke sana, menggenggam tangan bibinya, dan mengatakan bahwa mereka bisa pergi bersama.

Tetapi ia melihat salah seorang pemuda mengangkat tongkat.

Dan ia mengingat suara Elena.

Lari.

Ken menggigit bibirnya.

Lalu ia berlari menuju hutan.


Menjelang senja, suara desa telah menghilang.

Ken tidak tahu seberapa jauh ia berjalan. Kakinya terasa berat, napasnya tersengal, dan telapak tangannya masih perih akibat luka di pasar.

Ia berhenti di bawah pohon besar.

Hutan itu jauh lebih gelap daripada yang ia bayangkan.

Akar-akar pohon mencuat dari tanah seperti jari-jari raksasa. Kabut tipis bergerak di antara semak, sementara suara burung malam terdengar dari arah yang tidak dapat ia tentukan.

Ken merosot ke tanah.

Ia baru menyadari bahwa dirinya masih menggenggam sepotong roti yang diberikan Elena pagi tadi.

Roti itu telah hancur di dalam sakunya.

Ia mengeluarkannya, memandang remah-remah yang menempel pada telapak tangan, lalu tertawa pendek.

Tawa yang terdengar seperti isak.

"Hebat, Ken," gumamnya. "Kau bahkan tidak bisa menjaga roti."

Tidak ada yang menjawab.

Ia menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan gereja, ia membiarkan dirinya menangis.

Ia menangis bukan karena batu yang dilemparkan kepadanya.

Bukan pula karena orang-orang menyebutnya monster.

Ia menangis karena Elena masih berada di sana, dikelilingi orang-orang yang membencinya, sementara dirinya melarikan diri.

Ken tidak tahu apakah ia akan melihat bibinya lagi.

Ia tidak tahu ke mana harus pergi.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tidak ada pintu gereja yang dapat ia tutup untuk menjauh dari dunia.

Tiba-tiba, terdengar suara ranting patah.

Ken mengangkat kepala.

Di antara pepohonan, sepasang mata kuning memantulkan cahaya senja.

Seekor makhluk berdiri di balik kabut.

Tubuhnya menyerupai serigala, tetapi terlalu besar. Tulang-tulang hitam tumbuh menembus kulit di sepanjang punggungnya. Dari mulutnya menetes cairan gelap yang mendesis ketika menyentuh tanah.

Ken mundur.

Makhluk itu menggeram.

Ia mencoba berdiri, tetapi kakinya gemetar.

"Jangan..." bisiknya.

Monster itu merendahkan tubuhnya.

Ken meraih sebuah ranting di dekat kakinya.

Ia tahu ranting itu tidak akan berguna.

Ia tahu ia tidak memiliki kemampuan untuk melawan makhluk sebesar itu.

Namun, ketika monster itu melompat, Ken tetap mengangkat tangannya untuk melindungi wajah.

Benturan keras mengguncang tanah.

Ken terjatuh.

Ia menunggu rasa sakit yang akan mengakhiri segalanya.

Tetapi tidak ada apa-apa.

Seseorang berdiri di antara dirinya dan monster tersebut.

Seorang gadis berjubah biru pucat, dengan rambut perak yang kusut dan pedang pendek di tangannya.

Ia tampak tidak jauh lebih tua daripada Ken.

Napasnya terengah-engah. Ada goresan di pipinya, dan ujung jubahnya robek.

Namun, ia tidak mundur.

"Kalau kau masih bisa berdiri," katanya tanpa menoleh, "sebaiknya lakukan sekarang."

KEMBALI KE AWAL ↑