PROLOG 00 · THE BOY CURSED BY BLOOD
00 — Prolog: Dosa Para Pahlawan
Bertahun-tahun sebelum kelahiran Ken.
Malam itu, langit terbakar.
Bukan oleh matahari, bukan pula oleh api yang menjalar di atap rumah penduduk. Cahaya merah yang menggantung di atas ibu kota berasal dari retakan besar di langit—sebuah luka yang membelah awan dan memuntahkan makhluk-makhluk dari dunia yang tidak dikenal manusia.
Lonceng kerajaan berbunyi tanpa henti.
Di jalan-jalan, orang-orang berdesakan mencari perlindungan. Para prajurit mengangkat perisai di depan gerbang, tetapi tangan mereka gemetar ketika melihat sesuatu bergerak di balik kabut.
Monster-monster itu tidak semuanya memiliki bentuk yang sama.
Sebagian menyerupai serigala dengan tulang mencuat dari punggung. Sebagian lain berjalan dengan dua kaki, mengenakan potongan zirah manusia, dan membawa senjata yang dirampas dari para prajurit yang telah mereka bunuh.
Di antara mereka berdiri makhluk yang jauh lebih besar.
Sosok berjubah hitam dengan tanduk melengkung, sepasang mata merah, dan mahkota yang tampak menyatu dengan tengkoraknya.
Raja Iblis.
Ia tidak berteriak. Tidak pula mengangkat senjata.
Ia hanya memandang ibu kota, seolah-olah seluruh kerajaan itu sudah menjadi miliknya.
"Manusia," ucapnya.
Suaranya terdengar di seluruh medan perang.
"Kalian membangun tembok, mengangkat raja, dan menyebut tanah ini milik kalian. Katakan kepadaku, apa yang membuat kalian berbeda dari makhluk yang kalian buru?"
Tidak ada prajurit yang menjawab.
Kemudian, dari balik gerbang yang hampir runtuh, empat sosok melangkah maju.
Yang pertama adalah seorang pria berzirah gelap dengan pedang panjang di tangannya. Setiap langkahnya menggema di atas batu yang retak.
Aldric von Draven, sang Pahlawan Pedang.
Di sebelahnya berdiri seorang perempuan berjubah putih keunguan. Rambut hitamnya berkibar diterpa angin, sementara lingkaran sihir berputar perlahan di sekitar jemarinya.
Morrigan Elaris, sang Penyihir Bintang.
Sosok ketiga mengangkat perisai berhiaskan matahari. Cahaya keemasan merambat di permukaannya, membentuk penghalang di hadapan para prajurit yang terluka.
Seraphine Valcrest, sang Perisai Fajar.
Sementara itu, seorang pemanah berdiri di atas reruntuhan menara. Anak panahnya telah diarahkan tepat ke jantung Raja Iblis.
Caelan Veyr, sang Mata Fajar.
Empat orang.
Empat kekuatan.
Empat manusia yang kelak akan dipuja sebagai penyelamat umat manusia.
Aldric mengangkat pedangnya.
"Selama kami masih berdiri, kau tidak akan menyentuh kerajaan ini."
Raja Iblis memiringkan kepala.
"Dan jika suatu hari kalian tidak lagi berdiri?"
Aldric tidak menjawab.
Ia menerjang.
Pedangnya membelah udara, meninggalkan garis cahaya putih yang menghantam zirah Raja Iblis. Pada saat bersamaan, anak panah Caelan melesat dari menara, sementara sihir Morrigan membentuk rantai-rantai bercahaya yang mengikat kaki sang musuh.
Seraphine mengangkat perisainya.
Cahaya menyebar di seluruh medan perang.
Untuk sesaat, malam tampak berhenti.
Kemudian Raja Iblis tertawa.
Rantai sihir Morrigan pecah.
Anak panah Caelan hancur sebelum mencapai sasaran.
Benturan pedang Aldric mengguncang gerbang hingga sebagian dinding runtuh. Seraphine menahan gelombang energi yang menyapu para prajurit, tetapi kedua lututnya menghantam tanah.
"Mustahil..." bisik seorang prajurit.
Morrigan mengangkat kedua tangannya.
Darah mengalir dari sudut bibirnya. Ia mengabaikannya dan mulai melafalkan mantra yang tidak pernah diajarkan di akademi sihir kerajaan.
Aldric menoleh.
"Morrigan, jangan!"
"Aku tahu apa yang kulakukan!"
"Mantra itu akan menghabiskan hidupmu!"
"Kalau kita tidak menghentikannya sekarang, tidak akan ada kehidupan yang tersisa untuk dihabiskan!"
Udara bergetar.
Bayangan di bawah kaki Morrigan memanjang, lalu berubah menjadi puluhan tangan hitam yang mencengkeram tubuh Raja Iblis.
Caelan melepaskan anak panah terakhirnya.
Seraphine berdiri meskipun perisainya retak.
Dan Aldric, dengan pedang yang mulai kehilangan cahayanya, menyerang sekali lagi.
Empat kekuatan bertemu pada satu titik.
Cahaya putih meledak.
Ketika semuanya mereda, Raja Iblis telah menghilang dari medan perang. Retakan di langit menyusut, menyisakan garis merah tipis yang perlahan tertutup awan.
Monster-monster yang tersisa melarikan diri ke hutan.
Untuk pertama kalinya malam itu, lonceng kerajaan berhenti berbunyi.
Mereka menang.
Para prajurit bersorak. Orang-orang berlutut sambil menangis. Dari balik reruntuhan, seseorang meneriakkan nama keempat pahlawan.
Aldric mengangkat pedangnya.
Seraphine menundukkan kepala.
Caelan menurunkan busurnya.
Morrigan hanya berdiri diam, memandang langit yang kembali gelap.
Ia tidak ikut bersorak.
Jauh dari medan perang, di sebuah rumah kecil yang hampir roboh, seorang anak perempuan sedang menunggu ibunya pulang.
Namanya Lyra.
Dan ia tidak tahu bahwa kemenangan yang dirayakan seluruh kerajaan akan menjadi awal dari kematiannya.
Tiga bulan kemudian, ibu kota dipenuhi bendera kemenangan.
Patung-patung didirikan. Lagu-lagu diciptakan. Nama empat pahlawan diukir pada dinding istana, sementara para bangsawan mengadakan pesta untuk merayakan berakhirnya perang.
Namun, tidak semua orang memperoleh kedamaian.
Di sebuah ruangan sempit di bawah istana, seorang anak perempuan duduk di atas kursi kayu.
Lyra berusia sembilan tahun.
Gaun putihnya terlalu besar untuk tubuhnya. Rambut hitamnya diikat seadanya, dan kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan.
Di hadapannya berdiri tiga pejabat kerajaan, seorang pendeta, dan ayahnya sendiri.
Aldric von Draven.
Ia masih mengenakan seragam kebesaran sang Pahlawan Pedang. Pedang yang dahulu digunakan untuk menyelamatkan kerajaan tergantung di pinggangnya.
Lyra menatapnya dengan mata berbinar.
"Ayah."
Aldric tidak menjawab.
"Ayah, Ibu bilang Ayah akan pulang setelah perang selesai."
Salah seorang pejabat berdeham.
"Tuan Draven, kami perlu melanjutkan pemeriksaan."
Aldric mengangguk tipis.
Lyra menoleh kepada pria itu.
"Pemeriksaan apa?"
Pendeta di sampingnya membuka sebuah gulungan.
"Anak ini menunjukkan tanda sihir yang tidak lazim. Energinya memiliki kemiripan dengan sisa kekuatan Raja Iblis yang ditemukan di medan perang."
Lyra mengerutkan kening.
"Aku tidak melakukan apa-apa."
"Kami hanya ingin memastikan bahwa kau tidak membahayakan kerajaan."
"Aku bahkan tidak tahu apa yang kalian bicarakan."
Pejabat tertua meletakkan sebuah batu kristal di atas meja.
"Sentuh benda ini."
Lyra memandang kristal tersebut, lalu menatap ayahnya.
"Ayah?"
Aldric berdiri diam.
Ia tahu putrinya tidak memahami apa yang sedang terjadi. Ia tahu tanda di tubuh Lyra belum membuktikan bahwa anak itu membawa kutukan. Ia bahkan mengetahui bahwa para penyihir kerajaan belum sepakat mengenai sumber energi yang ditemukan di dalam darahnya.
Namun, jika ia membela Lyra dan tuduhan itu terbukti benar, kedudukannya sebagai pahlawan akan hancur.
Nama keluarganya akan dipertanyakan.
Para bangsawan yang dahulu memujanya mungkin akan berbalik melawannya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aldric dihadapkan pada pilihan yang tidak dapat diselesaikan dengan pedang.
Lyra mengulurkan tangan.
Kristal itu menyala merah.
Salah seorang pejabat langsung mundur.
"Terbukti!"
Pendeta menutup gulungannya.
"Tanda kutukan Raja Iblis."
Lyra menarik tangannya.
"Aku tidak tahu kenapa benda itu menyala!"
"Diam!" bentak pejabat tersebut.
Anak itu tersentak.
Ia menatap ayahnya sekali lagi.
"Ayah, katakan kepada mereka."
Aldric memejamkan mata sejenak.
Lyra turun dari kursinya, lalu berjalan menghampirinya.
"Ayah, aku takut."
Ia meraih ujung mantel Aldric.
"Tolong bawa aku pulang."
Tangan Aldric bergerak sedikit.
Untuk sesaat, ia hampir menyentuh kepala putrinya.
Namun, ia menarik tangannya kembali.
"Anak ini," katanya dengan suara datar, "tidak lagi berada di bawah perlindungan keluarga Draven."
Lyra tidak segera memahami perkataannya.
Ia menatap ayahnya, menunggu penjelasan.
"Tapi... aku anak Ayah."
Aldric berbalik.
"Ayah!"
Langkahnya terus menjauh.
"Ayah, aku tidak melakukan apa-apa!"
Pintu besi ditutup.
Suara benturannya menggema di dalam ruangan.
Lyra berdiri sendirian.
Ia tidak menangis pada awalnya. Ia hanya memandang pintu itu, seolah-olah jika ia menunggu cukup lama, ayahnya akan kembali dan mengatakan bahwa semuanya hanyalah kesalahpahaman.
Namun, tidak ada yang kembali.
Di luar ruangan, seorang perempuan berlari menyusuri lorong.
Morrigan.
Ia baru saja mendengar keputusan pengadilan. Jubahnya terseret di lantai, dan rambutnya berantakan ketika ia tiba di depan pintu besi.
"Apa yang kalian lakukan kepada anakku?"
Dua penjaga menghalangi jalannya.
"Lady Elaris, pemeriksaan telah selesai."
"Buka pintunya!"
"Atas perintah dewan kerajaan, anak tersebut akan dipindahkan untuk menjalani pengasingan."
Morrigan menatap mereka.
"Pengasingan?"
"Keputusan sudah ditetapkan."
"Dia berusia sembilan tahun!"
Tidak ada yang menjawab.
Morrigan mencengkeram lengan salah seorang penjaga.
"Di mana suamiku?"
Penjaga itu menunduk.
"Tuan Draven telah meninggalkan istana."
Morrigan melepaskan tangannya perlahan.
Untuk sesaat, ia tampak tidak mengerti bahasa yang baru saja didengarnya.
Kemudian ia berlari menuju pintu besi.
"Lyra!"
Dari dalam, terdengar suara langkah kecil.
"Ibu?"
Morrigan menempelkan telapak tangannya pada pintu.
"Ibu di sini, Sayang."
"Ibu, aku tidak melakukan apa-apa."
Morrigan menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mengalir di wajahnya.
"Aku tahu."
"Mereka bilang aku monster."
"Kau bukan monster."
"Mereka bilang Ayah tidak mau melihatku lagi."
Morrigan tidak sanggup menjawab.
Di balik pintu, Lyra mulai menangis.
"Ibu... aku ingin pulang."
Morrigan menempelkan dahinya pada besi yang dingin.
Ia adalah salah satu dari empat pahlawan yang menyelamatkan kerajaan. Tangannya pernah menahan kekuatan yang mampu menghancurkan benteng. Sihirnya pernah membuat Raja Iblis mundur.
Namun, malam itu, ia tidak mampu membuka sebuah pintu.
Dan untuk pertama kalinya, Morrigan memahami bahwa kekuatan tidak selalu berarti kemampuan untuk melindungi seseorang.
Lyra tidak pernah kembali ke rumah.
Beberapa hari kemudian, sebuah kabar menyebar di ibu kota.
Anak yang dituduh membawa kutukan Raja Iblis telah meninggal dalam pengasingan.
Tidak ada upacara pemakaman.
Tidak ada nama yang diukir pada batu nisan.
Tidak ada catatan resmi yang menjelaskan bagaimana seorang anak berusia sembilan tahun menghabiskan hari-hari terakhirnya.
Kerajaan hanya mengumumkan bahwa ancaman telah disingkirkan.
Pada hari pengumuman itu, Aldric berdiri di balkon istana bersama istri barunya.
Di bawahnya, rakyat bersorak karena percaya bahwa kerajaan telah kembali aman.
Aldric tidak tersenyum.
Namun, ia juga tidak mengatakan apa-apa.
Di sisi lain ibu kota, Morrigan berdiri di depan sebuah makam tanpa nama.
Ia membawa bunga putih yang telah layu.
Tidak ada pendeta yang bersedia menemaninya. Tidak ada prajurit yang bersedia menjaga tempat itu. Bahkan orang-orang yang dahulu menyebutnya pahlawan kini menjauh setiap kali melihatnya.
Morrigan meletakkan bunga tersebut di atas tanah.
"Maafkan Ibu."
Angin malam bertiup.
"Aku berjanji akan membawamu pulang."
Ia berlutut.
"Aku berjanji tidak akan membiarkan mereka menyakitimu."
Jemarinya menggali tanah hingga kuku-kukunya patah.
Namun, tanah itu tetap dingin.
Dan Lyra tetap tidak kembali.
Morrigan menundukkan kepala.
Lama sekali ia tidak bergerak.
Ketika akhirnya ia berdiri, sesuatu dalam tatapannya telah berubah.
Kesedihan itu masih ada.
Kasih sayangnya kepada Lyra juga tidak pernah hilang.
Namun, di balik keduanya, tumbuh sesuatu yang jauh lebih gelap.
Ia menatap istana yang menjulang di kejauhan.
"Aldric von Draven."
Namanya keluar dari bibir Morrigan seperti doa yang telah kehilangan kesuciannya.
"Kau meninggalkan anakmu demi mempertahankan kehormatanmu."
Angin membawa suaranya melintasi makam-makam tua.
"Kau membiarkan mereka membunuhnya agar tanganmu tetap bersih."
Tanah di bawah kakinya mulai retak.
Bayangan memanjang dari tubuhnya. Rambut hitamnya terangkat, seolah-olah ada tangan tak terlihat yang menariknya ke langit.
"Aku akan mengutuk darahmu."
Cahaya ungu menyala di sela-sela jari Morrigan.
"Bukan hanya dirimu. Bukan hanya anak-anak yang akan kau lahirkan."
Suaranya bergetar.
"Setiap keturunanmu akan membawa bekas dari dosa yang kau tinggalkan."
Angin berhenti.
"Semoga mereka mengetahui bagaimana rasanya dihakimi sebelum sempat berbicara."
Bayangan hitam merambat di sepanjang lengannya.
"Semoga mereka melihat ketakutan di mata orang-orang yang mereka cintai."
Morrigan mengangkat wajah.
Air matanya telah mengering.
"Dan ketika dunia menyebut mereka monster..."
Sebuah suara lain menjawab dari dalam kegelapan.
"...biarkan darah mereka mengingat siapa yang pertama kali mengkhianatinya."
Morrigan terdiam.
Ia tidak tahu apakah suara itu berasal dari sihir yang telah ia lepaskan, dari sisa kekuatan Raja Iblis, atau dari bagian dirinya yang telah lama hancur.
Namun, ia tidak menarik kembali kutukannya.
Malam itu, perempuan yang dahulu dikenal sebagai Penyihir Bintang meninggalkan makam putrinya dan berjalan menuju hutan terlarang.
Tubuhnya berubah sedikit demi sedikit.
Kulitnya kehilangan warna. Bayangan tumbuh di sepanjang tulangnya. Dari punggungnya muncul bentuk-bentuk yang menyerupai akar hitam, sementara matanya menyala dengan cahaya ungu yang dingin.
Ia tidak lagi ingin menjadi pahlawan.
Ia tidak lagi ingin menyelamatkan kerajaan.
Ia hanya ingin dunia mengingat nama anaknya.
Dan di istana, jauh dari makam tanpa nama itu, tidak seorang pun menyadari bahwa kutukan telah mulai bergerak.
Bertahun-tahun kemudian, seorang anak laki-laki akan dilahirkan dengan separuh wajah menyerupai monster.
Namanya Ken.
Ia tidak pernah mengenal Lyra.
Ia tidak pernah memilih darah yang mengalir di tubuhnya.
Dan ia tidak pernah mengetahui bahwa jauh sebelum kelahirannya, orang-orang yang disebut pahlawan telah meninggalkan dosa yang akan diwariskan kepadanya.
Sementara itu, di suatu tempat di balik hutan terlarang, Morrigan membuka matanya.
Untuk pertama kalinya sejak kematian putrinya, ia tersenyum.
Bukan karena bahagia.
Melainkan karena kutukannya telah menemukan jalan menuju masa depan.
— Akhir Prolog 00 —