SEBUAH KISAH FANTASI GELAP

THE BOY
CURSED BY
BLOOD

BACA CERITA

Anak yang Terkutuk oleh Darah

Separuh wajah Ken menyerupai monster. Ketika rahasianya tersebar, ia harus lari dari dunia yang telah menghakiminya.

↓ KUTUKAN · PENGKHIANATAN · TAKDIR

01 — WAJAH DI BALIK TAKDIR

DARAH
MENGIKAT
NASIB.

Di balik wajah yang dianggap monster, Ken menyimpan kisah tentang kasih seorang bibi, ketakutan sebuah kerajaan, dan keberanian untuk mencari kebenaran.

Dua tokoh berhadapan dalam pertarungan fantasi
THE CURSED BOYIlustrasi anak yang dikutuk oleh darah

Ken

Tokoh utama · Anak yang hidup dengan kutukan wajah separuh monster

THE HIDDEN GUARDIANIlustrasi Bibi Ken berbusana biarawati sedang berdoa

Bibi Ken

Pelindung · Menyembunyikan dan membesarkan Ken di gereja hingga usia lima belas tahun

THE LOST PRINCESSIlustrasi sang putri yang ditemui Ken di hutan

Sang Putri

Sekutu Ken · Mencari adiknya yang diculik monster berakal

THE MONSTER HORDEGerombolan monster yang mengancam kerajaan

Gerombolan Monster

Ancaman kerajaan · Menyimpan rahasia penculikan adik sang putri

THE WITCH'S CHILDIlustrasi legenda tentang anak seorang penyihir

Legenda Anak Penyihir

Korban masa lalu · Dibunuh karena warga mengira rupanya membawa kutukan

02 — SINOPSIS

KEN · KUTUKAN · DUNIA YANG MENGHAKIMI

WAJAH YANG
DIANGGAP
TERKUTUK.

I

Wajah yang dianggap kutukan

Ken terlahir dengan kutukan yang membuat separuh wajahnya menyerupai monster. Di kerajaan yang takut pada segala hal yang berbeda, tanda itu cukup untuk membuatnya dicap sebagai pembawa bencana. Wajah Ken mengingatkan warga pada legenda seorang anak penyihir yang dahulu dibunuh karena masyarakat yakin rupa sang anak membawa kutukan.

Sejak kecil, Ken hidup di tengah bisik-bisik, hinaan, dan tatapan takut. Tak seorang pun bertanya siapa dirinya; mereka hanya melihat bagian wajah yang mereka anggap mengerikan.

II

Bibi dan gereja sunyi

Hanya bibinya yang tetap menerima Ken sebagai keluarga. Demi menjauhkannya dari amarah warga, sang bibi menyembunyikan dan membesarkannya di sebuah gereja tua yang sepi. Di antara bangku-bangku kosong dan doa yang dipanjatkan, Ken belajar membaca, mendengarkan kisah-kisah lama, dan bertahan hidup tanpa benar-benar mengenal dunia di luar gereja.

Gereja itu menjadi rumah sekaligus tempat persembunyiannya. Berkat perlindungan bibinya, Ken berhasil bertahan hingga berusia lima belas tahun.

Ilustrasi pertarungan di hutan

SAAT RAHASIANYA TERSEBAR,
KEN MEMILIH UNTUK MELARIKAN DIRI.

III

Kabar yang menyebar

Namun, kabar tentang anak berwajah monster akhirnya menyebar hingga ke gereja. Bisik-bisik berubah menjadi ketakutan, dan ketakutan segera menjadi ancaman. Saat warga mulai mencari tahu siapa yang disembunyikan bibinya, Ken sadar bahwa keberadaannya dapat membahayakan satu-satunya orang yang pernah melindunginya.

Pada malam ketika warga mulai mendatangi gereja, Ken melarikan diri. Ia meninggalkan tempat yang selama ini menjadi seluruh dunianya, membawa kenangan tentang bibinya dan pertanyaan tentang kutukan yang melekat di wajahnya.

IV

Pertemuan di hutan

Di tengah hutan yang dipenuhi monster, Ken bertemu seorang gadis misterius—yang kelak ia ketahui adalah seorang putri kerajaan. Berbeda dari orang-orang yang pernah ia kenal, gadis itu tidak mundur saat melihat separuh wajahnya. Ia berbicara kepada Ken seperti kepada manusia biasa—tanpa jijik, tanpa takut, dan tanpa rasa kasihan yang merendahkan.

Untuk pertama kalinya, Ken dapat tertawa bersama seseorang di luar gereja. Ia belum tahu bahwa pertemuan singkat itu akan mempertemukan mereka kembali dalam keadaan yang jauh lebih berbahaya.

V

Melindungi seseorang

Takdir mempertemukan mereka kembali ketika sang gadis terancam oleh monster. Ken tahu ia tak memiliki kemampuan seorang kesatria. Tubuhnya lelah setelah bertahun-tahun hidup tersembunyi, sementara setiap luka dan setiap langkah salah dapat membuatnya kehilangan segalanya.

Namun, ia tidak sanggup membiarkan orang pertama yang menerimanya menghadapi bahaya sendirian. Ken bertahan hingga matahari tenggelam, mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi seseorang yang bahkan belum dikenalnya sepenuhnya.

VI

Legenda anak sang penyihir

Gadis itu akhirnya mengungkapkan bahwa ia adalah seorang putri yang sedang mencari adiknya yang diculik oleh monster berakal. Di saat yang sama, Ken mulai menemukan kisah lama tentang anak penyihir yang dibunuh warga karena dituduh membawa kutukan.

Catatan kerajaan menyimpan versi yang berbeda dari cerita rakyat. Anak itu mungkin bukan sumber bencana, melainkan korban ketakutan dan pengkhianatan orang-orang yang berkuasa. Kemiripan tanda di wajah Ken bukan kebetulan: kutukan itu mungkin terikat pada darah dan garis keturunan. Namun, siapa yang berusaha mengubur kebenaran itu?

VII

Menentukan arti menjadi manusia

Sang putri menawarkan untuk membawa Ken kembali ke kerajaan. Namun, ia menolak pulang ke tempat yang mungkin masih melihatnya sebagai pertanda buruk. Ia memilih menempuh jalannya sendiri: mencari adik sang putri, menelusuri asal kutukannya, dan mencari tahu mengapa kisah anak penyihir dihapus dari sejarah.

Di kerajaan yang menilai manusia dari rupa dan darahnya, Ken akan belajar bahwa monster tidak selalu dikenali dari wajah. Sebagian hanya korban yang tak pernah diberi kesempatan, sementara orang-orang yang menyebut diri mereka manusia bisa menjadi sumber kekejaman.

Inilah kisah Ken—anak berwajah separuh monster yang disembunyikan bibinya di sebuah gereja, melarikan diri dari prasangka, dan mencari kebenaran tentang kutukan yang telah merenggut hidup orang lain.

CATATAN DARI PENULIS

LATAR BELAKANG
PEMBUATAN CERITA

Pengalaman, keresahan, dan harapan pribadi yang menjadi awal lahirnya novel ini.

Cerita ini lahir dari pengalaman dan pemikiran pribadiku sebagai seseorang yang hidup dengan hemofilia. Bagiku, hemofilia bukan sekadar penyakit yang membuat darah sulit membeku ketika terjadi perdarahan. Penyakit ini juga menghadirkan berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari keterbatasan dalam melakukan aktivitas tertentu hingga kesulitan beradaptasi dengan lingkungan yang terkadang tidak memahami kondisi kami. Tidak semua orang mengerti bahwa hidup dengan hemofilia bukan berarti kami tidak mampu melakukan apa pun. Namun, prasangka, ketakutan, dan perlakuan yang berbeda dari orang lain terkadang justru menjadi beban yang lebih berat daripada penyakit itu sendiri.

Dari pengalaman itu, aku ingin mengangkat tema tentang stigma dan perlakuan terhadap orang yang dianggap berbeda. Dalam dunia fantasi novel ini, Ken hidup dengan kutukan yang membuat separuh wajahnya menyerupai monster. Pengalaman pribadiku menjadi salah satu sumber pemikiran tentang bagaimana prasangka dapat melukai seseorang.

Ken bertahan sampai usia lima belas tahun karena bibinya menyembunyikan dan membesarkannya di sebuah gereja tua. Bibinya ingin melindunginya dari warga yang percaya bahwa wajah Ken membawa bencana. Namun, perlindungan itu juga membuat masa kecil Ken berlangsung dalam kesunyian, jauh dari dunia yang ingin ia kenal.

Ketika kabar tentang Ken tersebar, ia memilih melarikan diri agar bibinya tidak ikut menjadi sasaran. Di luar gereja, ia menghadapi dunia yang belum tentu lebih ramah. Pertemuannya dengan seorang gadis misterius memberinya pengalaman baru: untuk pertama kalinya, seseorang melihat dirinya sebagai manusia, bukan sebagai kutukan.

Kisah anak seorang penyihir yang dahulu dibunuh oleh masyarakat menjadi cermin dari nasib Ken. Wajah mereka dianggap pertanda buruk, padahal kebenaran di balik legenda itu mungkin sengaja disembunyikan. Melalui misteri tersebut, Ken akan berhadapan dengan sejarah kerajaan, penculikan, dan pilihan untuk menolong orang lain meskipun dirinya sendiri masih mencari tempat untuk pulang.

Melalui perjalanan Ken, aku ingin menyampaikan bahwa seseorang tidak seharusnya dinilai hanya dari penyakit, penampilan, keadaan fisik, atau hal-hal yang tidak dapat mereka pilih. Terkadang, yang paling dibutuhkan seseorang bukanlah belas kasihan, melainkan kesempatan dan seseorang yang bersedia melihatnya sebagai manusia biasa.

Pada akhirnya, novel ini adalah caraku menuangkan pengalaman, keresahan, dan harapan ke dalam dunia fantasi. Sebab, yang membuat seseorang benar-benar menderita bukan hanya sesuatu yang berbeda pada dirinya, melainkan dunia yang menolak memberinya kesempatan untuk hidup dengan layak.

← KEMBALI KE HALAMAN NOVEL